Tradisi “Bingung” Menjelang Mudik Hari Raya

mudik

“Kak, lebaran nanti libur?”

“Gak tahu, Ma. Libur deh kayaknya. Kenapa, Ma?”

“Bagusnya lebaran tahun ini, kita lebaran di mana?”

Saya masih menggeliat di atas kasur saat Mama menelepon beberapa minggu lalu. Menguap lebar mengeluarkan sisa-sisa kantuk yang mengendap akibat begadang semalam suntuk memastikan kondisi pasien gawat yang datang ke UGD Puskesmas malam tadi. Padahal belum juga masuk bulan Ramadan, tapi Mama sudah menanyakan mau lebaran di mana. Bingung menentukan tempat mudik saat lebaran tiba adalah hal yang saya alami tiap tahunnya. Berhubung kampung halaman orang tua saya berbeda—Papa di Ambon dan Mama di Ternate—dan kota tempat mereka tinggal dan bekerja juga berbeda dengan saya dan adik-adik saya, akhirnya tiap tahun keluarga kami selalu kerepotan untuk menentukan di mana akan berlebaran.

Apakah tahun ini lebaran di kampung Papa saja? Atau di kampung Mama? Atau tak usah mudik saja? Cukup kami anak-anaknya yang pulang ke rumah di Sorong? Atau  lebaran di Makassar saja biar tak kerepotan dengan tamu? Kira-kira itulah yang selalu didiskusikan saat bulan Ramadan menjelang. Namun terkadang, keputusan untuk mudik ditentukan juga dari keluarga besar saya yang tinggal di Sorong akan berlebaran di mana. Jika kebanyakan dari mereka akan pulang kampung, maka kami akan mengikutinya. Jika tidak, kami pun demikian. Hehehe…

Sama halnya dengan tahun ini. Ketika Mama bertanya di mana akan berlebaran, otomatis saya hanya balik bertanya “Memangnya orang-orang yang di Sorong mau lebaran di mana?”, yang saya maksud orang-orang di sini adalah Kakek, Oom, Tante dan sepupu-sepupu saya lainnya. Hanya setahun sekali ini sajalah saya bisa berkumpul dengan keluarga besar saya, jadi saya tak ingin melewatkan kesempatan untuk berkumpul dengan mereka. Jika mereka ingin mudik pulang kampung, tentu saja saya juga ingin ikut!

Sebagai perantau yang tak kenal dengan kampung halamannya sendiri, mudik adalah hal yang selalu saya tunggu tiap tahunnya. Apalagi jika berlebaran di kampung Mama. Saya ingat, tiap salat idul fitri usai, kami sekeluarga tak langsung pulang ke rumah, tetapi berjalan kaki keliling kampung dan memasuki tiap rumah yang kami lewati untuk saling bersilaturahmi. Hanya saling bersalaman, berceritera sebentar, lalu mulai berjalan lagi ke rumah yang lainnya. Saya sampai terheran-heran, apakah di kampung sebesar ini semua warganya saling mengenal? Apakah dari ujung kampung sampai ujungnya lagi, semuanya adalah keluarga saya? Kadang saya hanya bisa tersenyum malu karena tak dapat mengingat nama orang-orang yang sudah saya salami sebelumnya.

Mudik ke kampung Mama, itu artinya bisa bermain di pantai sepuasnya! Saya bahkan bisa menikmati indahnya warna jingga keemasan dari matahari yang terbenam hanya dari balkon belakang rumah. Namun jika ingin ke pantai, saya cukup berjalan kaki selama lima menit dan saya langsung bisa menginjakkan kaki di pantai yang berpasirkan karang. Saya bisa bermain di pantai selama yang saya inginkan. Dan itu artinya, wajah gosong dan kulit terbakar matahari akan menyambut saat kembali pulang nanti. Hehehe…

Ah, saya jadi teringat, entah itu mudik ke Sorong, ataupun ke kampung Mama, saya selalu saja direpoti untuk membeli bawang, cabai, bahkan ayam kampung untuk dibawa serta saat mudik. Pernah suatu kali, tepatnya tahun 2010 silam, Mama meminta saya untuk membawa pulang ayam kampung ke Sorong dari Makassar. Jika ada yang bertanya kenapa, itu dikarenakan harga ayam kampung di Sorong bisa mencapai dua ratus ribu rupiah per-ekornya. Bisa dibayangkan bagaimana cara saya membawanya? Saya sampai ditahan oleh bagian pemeriksaan bagasi di bandara karena bertengkar dengan petugasnya yang ngotot ingin mengkarantina ayam kampung yang sudah dipotong-potong itu.

Mudik tahun ini, saya telah genap berusia seperempat abad. Jika tahun lalu keluarga saya masih tak begitu peduli untuk menanyakan kapan saya akan menikah (bisa dibaca ceritanya di sini), sepertinya tahun ini saya sudah harus mulai mempersiapkan diri menghadapi pertanyaan itu. Yah, meskipun saya belum punya jawabannya. Hanya siap-siap saja tak masalah bukan? Walaupun saya agak ragu keluarga besar saya akan menanyakan pertanyaan itu. Secara, mereka kan lebih tertarik dengan “Kapan saya lanjut sekolah lagi?” atau “Mau lanjut spesialis apa nanti?”. Ah, memikirkan saya akan lanjut sekolah lagi saja membuat saya sedikit mual.

Dua minggu lalu, Mama mengirimkan pesan singkat yang berisi kode booking pesawat yang akan saya tumpangi saat mudik nanti. Ternyata, tahun ini kami sekeluarga akan mudik ke Ternate! Akhirnya, saya bisa melihat lagi puncak gunung Gamalama dan juga indahnya pulau Maitara yang beberapa tahun ini hanya bisa saya lihat di dalam uang kertas seribu rupiah itu.

Well, intinya, meskipun tiap tahunnya keluarga saya selalu saja bingung mau mudik ke mana dan tak pernah punya rencana yang pasti, saya tak begitu peduli tentang hal itu. Karena, dimanapun kami merayakan hari raya, yang penting saya tahu ke mana saya harus pulang. 🙂

5 thoughts on “Tradisi “Bingung” Menjelang Mudik Hari Raya

Leave a Reply to Wen Cancel reply