Sekolah Gratis di Pulau Ngele-ngele

Ilustrasi

​“Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa.” -Hymne Guru

Mendengar kata pahlawan tanpa tanda jasa identik dengan profesi guru. Ya. Guru. Namun siapa sangka tanpa tanda jasa juga berarti tanpa bayaran jasa? Dan itulah yang saya dapati di Pulau Ngele-Ngele. Salah satu pulau kecil di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara.

Sebut saja namanya Pak Isra. Tak ada yang istimewa dari beliau. Pak Isra, atau pak ustadz—begitu warga desa Ngele-Ngele memanggilnya—terlihat seperti kebanyakan bapak-bapak lainnya. Berusia sekitar awal lima puluhan dengan rambut berwarna abu-abu yang mulai memutih. Beliau adalah kepala sekolah di MTs (Madrasah Tsanawiyah), setara dengan SMP, sekaligus juga kepala sekolah di MA (Madrasah Aliyah) atau setara dengan SMA di Pulau Ngele-ngele. Pertemuan dengan beliau membuat saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, bahwa pengabdian memang harus didasari oleh keikhlasan.

Sore itu, saya, Nurul, Mita dan beberapa orang lainnya baru saja tiba di pulau Ngele-Ngele. Pulau Ngele-Ngele itu sendiri terletak sekitar 45 menit menggunakan perahu kayu dari desa tempat saya bekerja. Kami diajak oleh Kak Anca—seorang guru SMA sekaligus pembina pramuka dan juga suami dari Mita yang kebetulan tinggal serumah dengan saya—untuk ikut berkemah dengan para murid binaannya. Begitu sampai, kami langsung disambut dengan ramah oleh Pak Isra beserta istrinya yang ternyata juga merupakan seorang kepala sekolah di MI (Madrasah Ibtidaiyah) atau setara dengan Sekolah Dasar. Pasangan yang hebat dan luar biasa menurut saya.

Bagaimana tidak? Mereka berdua telah tinggal di pulau Ngele-Ngele selama lebih dari dua puluh tahun, mengabdikan dirinya untuk pendidikan di pulau tersebut. “Kok gak minta pindah aja, Pak?”, sungguh saya sangat penasaran. Hidup di pulau kecil dengan jumlah penduduk hanya 70 KK saja, serta jaringan listrik yang hanya menyala beberapa jam di malam hari tentunya bukan hal yang menyenangkan.

“Saya tidak bisa kase tinggal pekerjaan di sini. Rasanya berat kalau belum ada orang yang bisa dipercaya untuk gantikan saya, Dok.”, jawaban beliau membuat saya tertegun dan selanjutnya sebuah cerita pun mengalir dari mulut beliau.

MI, MTs dan MA di pulau Ngele-Ngele adalah sekolah gratis. Benar-benar gratis tanpa bayaran apapun. Bahkan terkadang bagi mereka yang benar-benar tak mampu, pasangan suami istri tersebut akan dengan suka rela memberikan pakaian seragam juga. Gratis. Saat saya bertanya apakah sejak awal sekolah-sekolah tersebut adalah sekolah gratis, beliau kemudian menjelaskan bahwa pada mulanya, mereka sama seperti sekolah-sekolah swasta lain yang memberikan kewajiban pada tiap muridnya untuk membayar SPP, namun pada akhirnya banyak juga yang tidak membayar dikarenakan tingkat ekonomi warga di desa Ngele-Ngele yang masih tergolong rendah. “Ya sudah, sekalian dikasih gratis aja lah, Dok. Daripada banyak yang putus sekolah. Prinsip saya, jangan sampai ada anak di desa Ngele-Ngele yang tidak bisa sekolah.”

“Kalau lagi jalan keliling desa terus saya ketemu dengan anak-anak usia sekolah, pasti saya tanya, ngana sekolah ka tarada? Kalau tidak, langsung saya suruh masuk sekolah, bicara sama orang tuanya.” Lanjut beliau. Ah, rasanya saya menemukan sosok yang sering saya tonton di program acara Kick Andy. Saya tak bisa menyembunyikan rasa kagum saya terhadap beliau.

Menariknya lagi, para murid di desa Ngele-Ngele ternyata bukan hanya berasal dari pulau tersebut, tetapi bahkan juga ada yang berasal dari Ternate, Tobelo, Daruba dan daerah lainnya. Mungkin judul Sekolah Gratis itulah yang menarik para murid tidak mampu yang masih ingin bersekolah untuk datang ke Pulau Ngele-Ngele. Jika ada yang bertanya apakah sekolah di sana menyediakan asrama? Tentu saja tidak. Namun atas kebesaran hati Pak Isra dan istrinya, beliau berdua menampung para murid dari luar pulau tersebut di rumah beliau dan menganggap mereka sebagai anak sendiri.

Lalu, muncul pertanyaan lain. Jika semuanya gratis, lantas bagaimana cara mereka membiayai segala kegiatan di sekolah? Dan juga darimana gaji guru-gurunya? “Kan ada dana BOS. Meskipun dananya tak seberapa karena jumlah murid kami sedikit, tapi bisalah dipakai untuk kelangsungan kegiatan belajar-mengajar kami. Kalau gaji, yaa palingan dua ratus tiga ratus ribu tiap bulan.”, jawab Pak Isra kalem.

Murid di MA dan MTs Pulau Ngele-Ngele hanya berjumlah sekitar kurang dari lima puluh orang untuk tiap sekolahnya. Untuk sekolah dasarnya atau MI, berjumlah sembilan puluh satu orang. Guru-guru yang ada di sana pun terbatas jumlahnya. Untuk MI, terdapat tujuh orang guru, sedangkan untuk MA dan MTs hanya terdapat sepuluh orang guru yang saling membantu untuk mengajar di semua kelas dan semua mata pelajaran, mulai dari kelas tujuh hingga kelas dua belas. Oh iya, Madrasah Aliyah di Pulau Ngele-Ngele hanya membuka jurusan IPS untuk murid-muridnya.

Meskipun buku-buku yang dipakai mengajar sangat terbatas, guru-guru di desa Ngele-Ngele tak kehabisan akal. Jika mereka berkesempatan untuk pergi ke kota, mereka akan mengunduh materi ajar dari internet dan mencetaknya lalu kemudian dibawa ke desa. Prinsipnya adalah, meskipun pendekatan yang dilakukan berbeda, yang penting anak-anak mengerti apa yang diajarkan dan mereka tahu apa yang harus mereka ketahui seperti layaknya murid-murid di sekolah lain.

Ah, ternyata memang benar banyak jalan menuju roma. Meskipun pendidikan anak-anak di Pulau Ngele-Ngele gratis dengan segala keterbatasannya, bukan berarti pengetahuan mereka berbeda jauh dari mereka yang bersekolah dengan fasilitas lengkap. Melihat murid-murid di sana membuat saya berpikir bahwa masih banyak yang ingin bersekolah dan masih banyak orang yang dengan tulus ikhlas mengajar dengan segala keterbatasan dan juga kekurangan bahkan dengan gaji hanya tiga ratus ribu per bulannya—dan saya yakin dengan jumlah demikian tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, lagi-lagi banyak jalan menuju roma bukan? Setidaknya mereka tidak akan kelaparan karena ikan sangat mudah didapat dengan gratis. Cukup ke pantai dan memancing. Hasil kebun pun bisa digunakan. Ikhlas. ikhlas, ikhlas. Itulah yang selalu diucapkan oleh Pak Isra.

Guru, memang kaulah pahlawan tanpa tanda jasa. Semoga saja masih banyak orang seperti pak Isra dan istrinya, juga guru-guru lainnya yang telah mengabdikan dirinya di Pulau Ngele-Ngele.

Semoga saja setelah bertemu dengan Pak Isra dan istrinya membuat semangat saya untuk tetap bekerja di daerah terluar, terpencil dan tertinggal tidak surut. Dan semoga saja tulisan ini menjadi manfaat bagi semua orang yang membacanya.

Terakhir, SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL! Semangat untuk semua guru di seluruh Indonesia yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan dan membantu mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Kalian luar biasa!

Oh iya, SELAMAT ULANG TAHUN juga untuk diriku. Gak ada yang ngelarang untuk ngucapin selamat ulang tahun sama diri sendiri kan? Hehehe….

3 thoughts on “Sekolah Gratis di Pulau Ngele-ngele

Leave a Reply to Mad Solihin Cancel reply