#Ngopi2016 NGObrol asik Pejuang nasI; Ngopi Itu Gak Asik dan Gak Perlu Ada!

Berbagi Nasi Makassar

Berbagi Nasi Makassar

Sebenarnya saya ini ngapain sih di sini?”

Saya berbicara dengan diri saya sendiri. Berdialog dalam hati sambil bertanya-tanya tanpa mendapatkan jawaban karena tak dilontarkan.

Bergabung bersama gerakan Berbagi Nasi Makassar merupakan kepuasan batin tersendiri bagi saya. Mereka mungkin sekumpulan orang aneh yang suka berbagi padahal tak ada yang mereka dapat sebagai imbalan sama sekali. Mereka adalah sekumpulan orang gila yang justru punya keinginan untuk membubarkan saja gerakan yang mereka bangun sendiri—kalau bisa dalam tempo waktu sesingkat-singkatnya. Karena dengan bubarnya Berbagi Nasi se-Nusantara, artinya tak ada lagi orang miskin, tak ada lagi orang kelaparan, tak ada lagi yang membutuhkan bantuan. Merdeka!

Awalnya saya agak ragu untuk ikut menjadi peserta #Ngopi2016 (ngobrol asik pejuang nasi) di Mojokerto. Selain karena pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan, dalam waktu dua bulan ini saya telah pergi ke tiga kota berbeda, dan tentu saja itu membuat saya sulit mendapatkan ijin lagi. Namun mengingat Berbagi Nasi Makassar sudah dua tahun berturut-turut tidak ikut Ngopi, akhirnya saya memutuskan untuk nekat pergi. Bermodalkan uang tabungan yang pas-pasan (karena gaji tak kunjung masuk di rekening), dan juga merempongkan diri dengan bertukar jaga di rumah sakit dengan teman, akhirnya saya pergi bersama Ria, Kak Iyan dan Kak Anchu sebagai perwakilan dari Berbagi Nasi Makassar.

 

Perjalanan ke Mojokerto

Setelah sebelumnya sempat bikin drama gak jadi datang untuk mengerjai peserta Ngopi yang lain, kami jadi juga berangkat ke Mojokerto. Hehehe… Kami tiba di Bandara Juanda Sidoarjo pukul 20.30 WIB dan langsung disambut dengan lambaian kertas HVS bertuliskan #Ngopi2016 oleh panitia yang menjemput kami. Dari bandara kami tak langsung ke Mojokerto melainkan singgah terlebih dahulu di kos salah satu panitia di Surabaya dan melanjutkan perjalanan ke Gresik. Ya, kami akan bermalam di Gresik malam itu, di rumah panitia yang menjemput kami. Sebut saja namanya Kikik. Sama dengan nama saya. Hehehe…

Tiba di rumah Kikik sudah lewat tengah malam dan Alhamdulillah kami disuguhi dengan es cincau dan martabak serta terang bulan cokelat yang menggugah selera. Perjalanan dari Makassar hingga sampai di Gresik memang menguras tenaga kami, maklum, kami semua berangkat ke bandara langsung dari tempat kerja sehingga tak punya cukup waktu untuk istirahat. Meskipun demikian, kami tetap antusias menanti jalannya acara di #Ngopi2016 kali ini. Kami punya banyak harapan dan cerita yang ingin kami bagikan dan ingin kami dengar dari teman-teman Berbagi Nasi se-Nusantara.

The Day (3-4 September)

Pukul setengah lima pagi dalam keadaan masih mengantuk saya dan teman-teman yang lain telah bersiap-siap untuk ke lokasi berkumpulnya para pejuang nasi—sebutan untuk anggota gerakan berbagi nasi—se-nusantara yang lainnya. Setelah mandi dan sarapan, kamipun berangkat ke Mojokerto. Perjalanan dari Gresik ke Mojokerto tak memakan waktu begitu lama. Hanya satu jam berkendara dengan mobil. Sesampainya di sana, tampaknya rombongan kami merupakan peserta terakhir yang datang. Ramai dan seru, itulah kesan pertama yang saya dapatkan ketika melihat para pejuang nasi yang berkumpul di Angkringan Kopinspirasi. Banyak di antara mereka yang tampaknya sudah saling akrab. Langsung saja kami semua saling berjabat tangan dan menyebutkan nama, meskipun saya tak ingat lagi dengan siapa saja saya berkenalan saat itu. Hehehe… Karena ini adalah kali pertama saya ikut Ngopi, tak ada satupun wajah pejuang nasi nusantara yang saya kenal. Berbeda dengan Kak Iyan yang telah mengenal beberapa di antara mereka karena pernah bertemu sebelumnya dan sering bertegur sapa di grup obrolan Whatsapp Berbagi Nasi Nusantara.

Tak sampai sepuluh menit kemudian, rombongan kami pun berangkat menuju lokasi #Ngopi2016 , yaitu di Villa Damar Sewu, Pacet, yang ditempuh dalam waktu satu jam. Tiba di sana waktu masih menunjukkan pukul 9.30 WIB dan menurut rundown acara yang sudah diberitahukan sebelumnya, acara inti akan dimulai pukul setengah dua siang setelah makan dan salat duhur. Meskipun agak bingung dengan pembagian kamar, akhirnya saya dan Ria mendapatkan kamar di Villa 4 dan mendapatkan teman sekamar dari Jombang yang bernama mbak Ijjah dan dari Jakarta yang bernama mbak Sukma.

Memulai acara dari siang hari dengan pembukaan dan perkenalan secara singkat masing-masing regional masih terasa seru dan mengasikkan. Apalagi sepertinya banyak diantara para pejuang nasi yang sudah akrab dan tampak nyaman satu sama lain sehingga sering melontarkan ejekan tanpa risih. Bahkan saya sempat merasa kasihan kepada Satria selaku pembawa acara kami saat itu. Ia selalu mejadi target olokan dan selalu dikerjai oleh peserta yang lain. Keseruan masih terus berlanjut hingga sore hari saat kami semua bermain games bersama di lapangan yang lumayan luas yang letaknya di atas villa. Semua peserta Ngopi dibagi menjadi dua tim. Sebut saja tim A dan tim B. Saya sendiri ikut bermain permainan yang mengharuskan kami mengambil bola sambil mengapitkan kedua lutut. Hal yang lumayan sulit bagi saya, mengingat saya mengenakan gamis panjang dan tentu saja itu membuat saya sulit mengambil bola yang ukurannya hanya sedikit lebih besar dari bola tenis tersebut. Meski demikian, entah bagaimana caranya, kelompok saya selalu saja menang. Hehehe….

Keseruan di sore hari itu ditutup dengan games yang entah mengapa menjadi ‘brutal’. Hahaha… Saling siram-siraman dengan air, tepung, oli, dan entah apa lagi. Saya hanya bisa tertawa sambil mengamati tanpa berani ikut bergabung karena takut basah. Hehehe…

Sebenarnya dari semua rangkaian acara di #Ngopi2016 kali ini, yang paling saya dan teman-teman dari Berbagi Nasi Makassar tunggu adalah acara ngobrol asik pejuang nasi itu sendiri. Kami ingin mendengar dan berbagi pengalaman bersama pejuang-pejuang nasi yang lain. Saya sangat antusias menanti malam. Namun, yang terjadi saya malah agak kecewa dibuatnya, sehingga membuat saya bertanya-tanya dalam hati, “Sebenarnya saya ini ngapain sih di sini?”.

Acara ngobrol yang saya nantikan tak kunjung datang. Meskipun saya juga sempat mengobrol dengan beberapa peserta lain di sela-sela acara, tapi saya menanti acara sharing yang lebih besar. Apakah saya ke sini hanya untuk senang-senang saja? Untuk liburan saja? Namun, saya masih berharap acara ngobrol tersebut akan dipindahkan ke lapangan saat kami semua berkumpul untuk menyalakan dan melepaskan lampion serta barbeque-an sambil bernyanyi bersama. Namun, itu juga tak terjadi. Yang terjadi hanyalah teman-teman sendiri membuat kelompok-kelompok kecil dan tersebar di seluruh lapangan. Dalam bayangan saya, kami bisa berkumpul membentuk lingkaran mengitari api unggun sembari kembali berkenalan dan bertukar pengalaman. Meskipun demikian, saya masih merasa beruntung karena masih sempat bertukar pengalaman bersama beberapa pejuang nasi dari Jakarta, Depok, Cikarang, Batam, dan Pontianak. Yah, meskipun itu masih jauh dari kata cukup mengingat jumlah peserta yang mencapai lebih dari dua ratus orang itu berasal dari dua puluh empat regional yang berbeda.

Malampun berlalu begitu saja. Pagi hari, kami semua diarahkan oleh panitia untuk pergi ke daerah wisata pacet yang katanya tak jauh dari villa tempat kami menginap jika ditempuh dengan berjalan kaki. Well, saya percaya aja dong. Dan kemudian saya merasa ditipu karena perjalanan yang lumayan bikin encok karena mendaki itu memakan waktu hingga lebih dari tiga puluh menit. Maklum, saya jarang berolahraga. Tapi semua rasa lelah itu terbayarkan setelah sampai di sana. Hehehe…

Usai dari sana, tibalah acara penutupan yang dirangkaikan dengan bertukar kado dari seluruh peserta Ngopi. Sayangnya, pertukaran kado yang harusnya menyenangkan itu dirusak oleh beberapa kado yang menurut saya tak pantas. Ada yang mendapatkan bra, obat kuat bahkan kondom. Kasian kan teman-teman yang sudah menyiapkan kadonya dengan sepenuh hati tapi malah mendapatkan kado yang seperti itu. Saya sendiri masih termasuk beruntung karena mendapatkan kado dari Mas Arief peserta Ngopi dari Jakarta. Isinya bendera merah-putih dan juga buku lagu-lagu daerah. Udah aku manfaatin dengan baik, Mas! Kebetulan gak ada bendera merah-putih di rumah. Duh, kok kesannya saya bukan warga negara yang baik ya? Hehehe…

***

Terlepas dari semua komentar saya di atas, saya sangat salut dengan panitia #Ngopi2016 di Mojokerto yang amazing banget karena hanya berjumlah 14 orang dan mampu mengakomodir kami semua—pejuang nasi se-nusantara. Kalian semua KEREN dan HEBAT! Saya sendiri tak bisa membayangkan jika Makassar yang menjadi tuan rumah dengan jumlah panitia hanya 14 orang. Pastinya kami akan kelabakan.

Usai mengikuti #Ngopi2016 yang katanya asik ini, saya jadi berpikir, Ngopi itu gak asik dan gak perlu ada! Iya, gak asik, kalau pejuang nasinya gak seseru dan serame ini. Gak perlu ada, kalau panitianya gak kompak dan tough seperti panitia dari Mojokerto. Karena kalau panitianya aja gak kompak dan kuat, gimana acaranya bisa jalan? Iya kan?

Kesimpulan saya, #Ngopi2016 bisa dibilang sukses! Meskipun saya baru sekali ini ikut gathering bersama pejuang nasi nusantara yang lain, namun saya ikut merasakan kekeluargaan dan semangat berbagi yang tinggi dari mereka. Saya bisa bertemu dengan saudara-saudara dari seluruh Indonesia yang berkumpul dan bertemu menjadi keluarga besar tanpa ikatan darah karena satu tujuan yang sama, yaitu berbagi. Keakraban, keseruan dan kekeluargaan yang mereka perlihatkan, membuat saya ingin kembali lagi. Ingin bertemu mereka lagi. Ingin seru-seruan bareng mereka lagi.

Harapan saya, semoga saja Ngopi tahun depan bisa jauh lebih sukses daripada tahun ini. Dan semoga saja tahun depan saya masih bisa diberi kesempatan untuk ikut #Ngopi2017 di Batam. Berat di ongkos sebenarnya, karena saya sepertinya akan ke sana dari Sorong-Papua Barat. Dari timur ke barat. Itu artinya saya harus menabung dari sekarang! Hahaha… (oke, ini curcol, jadi abaikan saja)

Pokoknya, kalian semua KEREN! Sampai jumpa di Batam, guys!

5 thoughts on “#Ngopi2016 NGObrol asik Pejuang nasI; Ngopi Itu Gak Asik dan Gak Perlu Ada!

  1. Maapkan kami dr pihak panita Ngopi2016 yang banyak kurannya ya bu dokter cantik. Hayukkk menabung biar bisa ketemu lagi di batam :* see yaa…

Leave a Reply to Anita Mei Cancel reply