Karena Allah Sayang Kamu, Melebihi Rasa Sayang Kami Semua

RASANYA SEPERTI MIMPI BURUK! MIMPI YANG SANGAT BURUK!

Tapi mengapa harus aku yang mengalaminya terus menerus? Ah, aku hampir lupa, mimpi buruk ini bukan hanya aku yang mengalami, namun juga semua orang yang menyayangimu yang mencintaimu.

Hari ini, tepat hari ulang tahunmu, Ki. Namun, hari ini pula Allah memutuskan untuk memanggilmu menghadap-Nya. Namun, entah mengapa tak ada air yang mengalir dari mataku ketika aku tahu kau telah tiada. Mungkin, aku masih berharap bahwa ini adalah mimpi buruk dan ketika aku terbangun nanti, kau masih ada di sana, seolah tak terjadi apa-apa. Atau mungkin, tanpa sadar aku telah mempersiapkan diriku untuk menghadapi hal ini jauh sebelumnya—saat aku tahu kau sakit.

Kupikir, aku kuat. Namun, begitu meletakkan dahiku di atas sajadah, air mataku tak dapat berhenti mengalir. Isakan kecil yang kutahan, justru semakin deras dan bertambah keras. Rasanya aku seperti mau gila. Tak pernah terbayangkan aku harus merasakan hal yang sama lagi seperti saat Andra dulu pergi. Meskipun selalu kuyakinkan diriku untuk ikhlas, namun mengapa terasa sangat sulit?

Ya Allah, kadang aku ngerasa kenapa ini gak adil banget? Kenapa sahabat-sahabatku yang harus Kau panggil? Pertama, Andra. Lalu kemudian, Iki. Aku tahu, tak seharusnya aku berpikir seperti ini. But, I just can’t help it.

Bolehkah aku mengingat tentangmu, Ki?

Aku masih ingat, Ki, sejak semester satu hingga lulus kuliah kita selalu sekelompok tutorial, mengerjakan tugas kelompok yang harusnya dikerjakan bersepuluh, namun akhirnya hanya kita berdua saja yang mengerjakannya dan kau pun seperti biasa akan ngomel-ngomel. Kita berdua memang partner yang sempurna. Partner koro-koroang—tukang marah. Setelah lulus kuliah pun kita masih selalu bersama. Sama-sama satu stase saat kepaniteraan klinik dari tingkat satu hingga tingkat dua. Mungkin karena kita hampir selalu menghabiskan waktu bersama akhirnya kita pun menjadi akrab.

Aku juga masih ingat, Ki, kau yang sering sekali tertidur dalam kelas, namun ketika ditanya oleh dosen kau selalu bisa menjawab. Kau selalu selangkah lebih maju. Padahal aku yakin, aku lebih banyak mendengarkan kuliah dibandingkan dirimu.

Aku ingat kau yang sangat ingin menjadi dosen. Pernah suatu kali, saat kuliah parasitologi di semester empat, kau duduk di sampingku. Terlihat sibuk mengetik, tak mendengarkan apapun penjelasan yang dengan susah payah dilontarkan oleh dosen kita. Aku yang penasaran pun mengintip apa yang tengah kau kerjakan. Namun, kau terlebih dahulu membalikkan layar laptop ke arahku dan bertanya “Kira-kira kalau kubikin slide presentasi seperti ini, kau mengerti atau ndak?”, aku menatapmu heran. Bagaimana tidak? Sekarang kami tengah kuliah dengan materi parasitologi dan dia justru membuat slide presentasi imunologi!

“Ngerti. Tapi untuk apa ini?” aku bertanya heran.

“Untuk persiapan kalau jadika dosen nanti.” Dan kemudian aku menutup mulutku rapat-rapat dengan kedua tangan, khawatir tawaku meledak di tengah kesunyian kelas yang mencekam. Astaga, kita saja masih semester empat, perjalanan menjadi dokter masih beberapa tahun lagi, dan kau telah merencanakan seperti apa materi yang akan kau ajarkan? Kau memang selalu saja penuh dengan kejutan, Ki.

Aku ingat, saat baru pertama kali masuk koas, kita sedang mendapatkan tugas jaga di UGD. Karena lagi sepi pasien, aku hanya duduk-duduk saja dan kau justru berkeliling. Tak berapa lama, aku mendengar derik tempat tidur yang semakin lama semakin heboh bunyinya, dan aku mendapatimu sedang di sana, seorang diri, melakukan RJP (resusitasi jantung paru) dan langsung meneriakiku untuk mengaktifkan code blue. Aku panik, tak terbiasa dengan situasi itu. Dan kau, seperti biasanya tenang. Aku hanya heran, bagaimana ceritanya kau yang koas penyakit dalam bisa di sana—meresusitasi pasien saraf? Ternyata, ketika kau berkeliling kau tak sengaja melihat layar monitor pasien bagian lain yang berubah menjadi lurus dan segera bertindak.

Aku ingat, kau yang sangat bangga jika bisa melakukan sesuatu yang tak bisa kami lakukan. Kau selalu berani mencoba. Dan entah mengapa, berakhir dengan tanpa kesalahan. Kau sangat kompetitif dan tentu saja inovatif. Mengapa aku berkata demikian? Kau bahkan membuat stylus ponsel sendiri—dan aku mengataimu kurang kerjaan. Kau sangat perhatian dan jenius jika menyangkut keselamatan pasienmu. Kau tak segan-segan memarahi keluarga pasien ataupun pasien itu sendiri jika mereka tak menuruti apa yang kau katakan.

Ah, aku juga ingat, kau selalu dijadikan tukang masak oleh kami. Karena memang kau lah yang paling pintar memasak—setelah aku tentunya—diantara kami semua, teman-teman akrabmu. Kadang kau pun selalu direpoti oleh kami, dan meskipun kau selalu marah-marah, tetapi kau tetap sabar menghadapi kami—teman-temanmu, yang super menyebalkan.

Aku selalu membayangkan akan jadi apa kita nanti dua puluh tahun ke depan. Dan dalam bayanganku, kau akan menjadi seorang yang sangat hebat. Seorang dokter spesialis bedah thoraks dan juga seorang professor di negara kita ini. Profesor yang hebat. Namun, semua itu bukanlah takdir yang Allah tuliskan untukmu.

Selamat jalan Iki… Kau adalah salah satu teman, sahabat, saudara, keluarga yang terbaik yang pernah aku punya. Terima kasih telah bertahan selama ini. Aku tahu kau telah berjuang dengan sangat keras—semampumu. Kau telah cukup merasakan rasa sakit. Dan mungkin, ini adalah jawaban Allah atas segala doa dan tangis putus asa dari orang-orang yang menyayangimu. Maafkan aku yang tak bisa berada di sisimu di penghujung napasmu. Maafkan aku yang mungkin belum cukup baik untuk menjadi sahabat orang baik sepertimu. Maafkan aku yang tak dapat mengantarmu ke pembaringanmu yang terakhir. Namun, satu yang harus kau tahu, doaku dan semua orang yang menyayangimu akan selalu mengalir deras untukmu.

Untuk semua dokter dan tenaga medis di seluruh dunia, we save lives, but don’t forget to save yours first.

Mohon doanya dari semua teman-teman yang mengenal sahabat saya dr. Rizki Setiawan . Tolong doakan dia agar khusnul khotimah, dan maafkanlah segala kesalahan yang pernah ia perbuat. :’)

We love you. Always.

 

5 thoughts on “Karena Allah Sayang Kamu, Melebihi Rasa Sayang Kami Semua

  1. Sedihnya :'( Semoga almarhum diterima amal ibadahnya, diampuni semua dosanya dan dilapangkan kuburnya, semoga sahabat dan kerabat yang ditinggalkan ditinggalkan diberi ketabahan, amin. Turut berdukacita bu dokter.

Leave a Reply to ribash Cancel reply