Gempa di Morotai; Semalam Mengungsi di Kebun

Suara gemuruh atap yang berderak dan tanah yang bergoyang dengan kuat membangunkan saya dari tidur. Seketika mata saya terbuka lebar, namun tak ada yang terlihat. Hanya sedikit cahaya dari luar kamar saya. Ah, semalam saya memang mematikan lampu kamar ketika hendak tidur. Sambil meraba-raba, saya mencari dimana letak kacamata dan juga jilbab saya. Terburu-buru saya mengenakan keduanya dan hendak menuju pintu ketika guncangan semakin kuat dan tiba-tiba listrik mati total. Untungnya tangan saya sempat meraih powerbank kecil yang biasa saya gunakan sebagai senter dan langsung menyalakannya dan tergesa-gesa membuka pintu kamar. Beberapa kali tangan saya tergelincir dari gagang pintu karena gemetar.

Begitu pintu terbuka, getaran dari tanah yang bergoyang telah berhenti. Saya menarik napas lega dan mengarahkan senter ke dinding dan langit-langit rumah untuk melihat apakah ada retakan ataupun tanda-tanda rumah akan rubuh sembari berjalan ke pintu keluar yang mengarah ke teras samping. Tak sampai sedetik kemudian. Pintu-pintu kamar di rumah dinas saya terbuka. “Astaga, kencang sekali gempanya, Ky.” Terlihat wajah Nurul—dokter gigi di puskesmas—yang cemas dan jilbabnya yang terlihat jelas hanya dipasang sembarangan. Adi dan Kak Wahab serta istri dan anaknya pun demikian. Kami berdiri di teras sambil menenangkan diri masing-masing.

“Kasihan istrita, Kak. Padahal baru malam pertama di Morotai, tapi udah gempa kayak begini.” Istri dan anak Kak Wahab—partner kerja saya di puskesmas—memang baru saja tiba kemarin sore. Selang beberapa menit kemudian, gempa kembali terjadi. Namun hanya beberapa detik saja. Selang satu menit kemudian, tanah kembali bergoyang. Astaga, harus sampai kapan seperti ini? Masa tiap satu menit gempa lagi sih? Saya melirik jam dinding di dalam rumah, pukul satu lebih sepuluh menit. Kami bertahan sekitar satu jam di teras menunggu kapan kira-kira gempa akan berhenti total tanpa adanya gempa susulan lagi.

Suara klakson mobil, gemuruh knalpot motor yang berlalu lalang, serta teriakan-teriakan warga di jalan mengalihkan perhatian saya. Nurul dan Kak Wahab telah kembali ke kamarnya masing-masing, hanya tinggal saya dan Adi yang masih bertahan di teras rumah. “Mereka ngapain, Di? Kenapa rame sekali?”, tanya saya pada Adi. Karena Adi pun tak tahu, akhirnya kami berdua menuju ke kompleks di depan jalan raya. Ternyata di sana telah berkumpul pegawai puskesmas yang lain, masing-masing membawa barang bawaan.

“Wih, ngoni su siap deng barang bawaan eh? Mau mengungsi ke mana kong?”. Saya berpikir dalam hati, kok warga di sini heboh sekali ya? Ah, mungkin karena kami tinggal tepat di pinggir pantai, jadinya khawatir akan terjadi tsunami. “Ih, Dok. Keadaan begini nih, torang harus siap. Ini kita su bawa kita pe berkas-berkas. Jadi kalo ada apa-apa bisa langsung mengungsi. Ini orang desa yang lain su pergi mengungsi. Torang tunggu ambulans saja dulu, baru sama-sama pergi.” Saya hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Kak Tika sambil berpikir apakah saya harus mengambil berkas-berkas saya di rumah juga atau tidak.

“Memangnya potensi tsunami kah?” Saya bertanya kepada Kak Aka. Beliau menjelaskan bahwa yang membuat masyarakat di sini panik adalah karena air laut sejak pukul sebelas tadi malam telah surut dan hingga pukul tiga dini hari ini masih juga surut. Rasanya ingin menelepon mama dan papa atau siapapun untuk menanyakan di mana pusat gempa dan juga apakah berpotensi tsunami atau tidak. Tapi seperti biasa, sinyal di Desa Wayabula sama sekali tak ada. Lalu, tak berapa lama kemudian, gempa susulan kembali terjadi. Hanya dua detik. Tapi cukup membuat jantung berdegup kencang.

Saya segera kembali ke rumah, membangunkan Nurul dan Kak Wahab, lalu memasukkan satu map berisi ijazah, dompet, Al-Quran, alat salat, powerbank dan juga charger telepon ke dalam satu ransel. “Mau ngapain, Ky?” Tanya Nurul. Lalu saya menjelaskan secara singkat bahwa warga sekampung tengah mengungsi ke kebun yang ada di atas gunung. Nurul segera berkemas, namun Kak Wahab memilih untuk bertahan saja di rumah.

Kami lalu menunggu di depan jalan sambil melihat warga yang berlalu-lalang dengan tergesa-gesa berjalan menuju dataran yang lebih tinggi. Mobil truk milik tentara juga telah beberapa kali lewat sambil membawa warga yang menumpang. Saya masih belum terlalu panik. Bingung sebenarnya. Apakah kami memang harus mengungsi? Lagi sementara berpikir, tiba-tiba gempa susulan kembali lagi terjadi. Cukup kuat. Dan lama. Saya mencari-cari keberadaan Nurul yang ternyata berdiri di belakang saya.

“Ini kita nunggu apa lagi sih?” Nurul kelihatan mulai gelisah karena gempa yang terakhir lumayan kuat. Tak berapa lama datang Kak Samsir—supir puskesmas—yang mengendarai ambulans. Di dalam ambulans telah ada anak-anak Nusantara Sehat yang lain. Lalu kami naik satu persatu. Saya, Nurul, Kak Tika, Kak Vivi, Kak Uli, Amel, Sumita, Adifa, ah saya jadi heran sendiri, orang sebanyak ini bisa muat dalam satu ambulans. Hehehe…

Di dalam ambulans terjadi perdebatan di mana kami akan mengungsi. Awalnya Kak Samsir berhenti di depan kantor Polsek. Terlihat hampir seluruh warga Desa Wayabula dan Bobula ada di sana. Lapangan luas yang ada di samping dan depan kantor tampak penuh. “Kita ngungsi di kebunnya Kak Lia saja sudah.” Saya lupa siapa yang menyarankan demikian. Akhirnya Kak Samsir kembali melajukan ambulans dan berhenti di depan pondok kayu kecil yang telah dihuni oleh banyak sekali orang. Kami turun dari ambulans dan naik ke pondok kayu itu. Di sana ternyata telah ada kepala puskesmas saya dan juga beberapa orang yang saya kenal. Ada yang menggelar terpal di atas tanah dan tidur di sana, ada yang duduk di atas batang pohon, ada yang berbaring di atas para-para kayu, ada pula yang hanya berdiri sambil mondar-mandir. Saya melihat ada beberapa orang ibu yang dengan susah payah menenangkan bayinya yang mungkin saja kedinginan dan juga rewel karena digigit nyamuk.

Saya mencari tempat duduk dan menelungkupkan wajah berusaha untuk tidur. Ah, rasanya lelah sekali. Kemarin saya hanya sempat tidur selama tiga jam karena ada pasien gawat di puskesmas. Dan hari ini, baru saja terlelap tiga jam dan gempa sudah membuat heboh satu kampung.

Hingga fajar menyingsing, gempa susulan masih terus bermunculan. Pukul setengah tujuh pagi tampaknya warga sudah mulai lelah. Dari ujung terlihat puluhan warga yang sedang berjalan kaki turun dari gunung. Mereka berniat untuk pulang. Katanya, air laut di pantai sepertinya terlihat normal, kalaupun akan tsunami, mungkin tak akan terjadi hari ini.

Pukul delapan pagi akhirnya kami turun dari kebun kak Lia. Kaki dan tangan saya penuh dengan bintik merah akibat digigit nyamuk. Saya sudah sangat merindukan kasur di rumah. Tapi baru saja sampai di rumah, gempa terjadi lagi. Saya jadi tak bisa tidur dan memutuskan untuk duduk di teras.

Di luar rumah terlihat ada Kak Hanter, Adi, Kak Hamid dan Eri yang tengah bercerita tentang kejadian-kejadian lucu semalam. “Astaga Dok, tadi malam tuh ada yang lari keluar cuma pakai celana dalam. Tapi yang lebih lucu lagi, yang lain lari mengungsi bawa barang banyak sekali, paitua satu nih dia lari cuma pegang dia pe kartu sehat saja. Katanya siapa tahu nanti ada apa-apa, dia sakit kah, celaka kah atau bagaimana, bisa pake de pe kartu JKN tuh.” Dan seketika tawa saya meledak. Hahaha… Ada-ada saja. Keadaan hectic seperti semalam, beliau masih saja berpikir tentang kesehatan.

Untung saja di Desa Wayabula dan Desa Bobula tak ada korban dari gempa kali ini. Namun, menurut cerita beberapa warga, ternyata ada banyak yangterluka dari desa di pulau seberang karena rumah yang rubuh akibat gempa semalam.

Karena gempa kali ini, saya akhirnya memutuskan untuk memasukkan semua dokumen penting, dompet dan benda-benda berharga lainnya ke dalam satu ransel yang tak akan saya bongkar lagi. Jadi, jika ada kejadian seperti ini lagi, saya tinggal membawa ransel itu saja. Hehehe… Semoga saja tak ada lagi gempa susulan dan tak ada korban jiwa karena kejadian ini.

Pokoknya, kalau terjadi gempa yang besar di tempat kalian, segera keluar dari rumah, cari tempat yang luas dan lapang atau jika berpotensi tsunami mengungsilah ke tempat yang lebih tinggi, kalo tak ada dan tak sempat keluar dari rumah, berlindunglah di bawah meja, dan jangan lupa membawa dokumen-dokumen penting yang dibutuhkan jika ingin mengungsi.

One thought on “Gempa di Morotai; Semalam Mengungsi di Kebun

Leave a Reply to Anggita Wardhani Cancel reply