Terlambat Sahur dan Ikan yang Gagal Dimakan

Marhaban ya Ramadan. Selamat datang bulan ramadan. Bulan suci penuh ampunan. Bulan yang penuh dengan kenangan. Bulan yang selalu dirindukan. Bulan yang selalu membuat saya ingin pulang ke rumah. Ah, tahun ini lagi-lagi saya tak dapat melakukan ritual puasa pertama bersama keluarga. Tapi mau bagaimana lagi? Resiko jadi anak rantau yang bahkan setelah kuliah malah memilih bekerja di tempat yang jaaaaaauuuuuh dari orang tua.

Saya jadi teringat, dulu, saat di rumah, jika tiba waktu sahur, saya lah yang selalu membangunkan orang serumah. Jika saya tak bangun, maka yang lainpun juga tak bangun. Mama, papa, adik, tante, semuanya. Namun, jika saya tak ada di rumah, entah mengapa mereka justru bisa bangun sendiri. Dan ternyata, hal itu berlanjut hingga sekarang. Bahkan setelah saya bekerja di Pulau Morotai dan tinggal serumah dengan orang yang berbeda, tetap saja saya yang selalu bangun pertama kali dan membangunkan orang serumah.

“Nuruuuuul….kamu sahur gaaaaak?”

Subuh itu saya berteriak heboh sambil menggedor-gedor pintu kamar dokter gigi yang serumah dengan saya. Cahaya jingga matahari sudah mulai terlihat menembus jendela rumah kami. Tak nampak aktivitas apapun di dalam rumah sebelumnya. Meja makanpun masih terlihat kosong tanda belum ditempati makan. Tak mendapatkan respon, akhirnya saya kembali menggedor kamar Nurul dan berteriak sekali lagi. Tak elak pun semua orang di rumah dinas—yang terdiri dari enam orang dewasa dan satu anak kecil berusia dua tahun—juga terbangun dan keluar dari kamar tidurnya. Ternyata, kami semua terlambat bangun sahur.

“Ky…Aku kesiangan.” Itulah kalimat pertama yang Nurul ucapkan ketika keluar dari kamar tidurnya, disusul dengan Mita yang terlihat mengantuk dan mengucapkan hal serupa. Tak lama kemudian, keluar juga Kak Wahab—partner dokter umum saya di puskesmas—dan ia justru tertawa, “Padahal aku udah sedih gak ada yang bangunin sahur, ternyata semuanya pada kesiangan. Hahaha…”

Saya sendiri heran, kok bisa tujuh orang dewasa di dalam rumah sama sekali gak ada yang terbangun untuk sahur. Tapi mau gimana lagi? Ah, ini semua gara-gara ponselku yang tertinggal di kamar Nurul. Padahal alarm di ponsel itulah senjataku untuk bisa bangun sahur. Namun yang membuat saya khawatir adalah, saya sama sekali belum makan apapun sejak buka puasa semalam. Hanya minum segelas es buah dan juga dua buah kue. Hanya itu. Entah ini kebiasaan baik atau buruk. Tapi saya memang hampir tak pernah makan nasi setelah buka puasa. Kalaupun iya, biasanya setelah salat tarawih usai. Itulah sebabnya saya harus selalu bangun sahur karena kebiasaan itu.

Sup Ikan. Slurrrpppp!

Tapi alasan sebenarnya yang membuat saya menyesal tak sahur subuh itu bukan karena khawatir perut akan keroncongan karena tak makan sama sekali, tapi lebih karena makanan yang saya dan Nurul masak semalam jadi mubazir tak dimakan. Padahal kami berdua udah bela-belain masak untuk sahur hingga pukul sebelas malam. Sup ikan yang segar dan ikan goreng yang gurih hasil pancingan Kak Wahab yang jika dijual di restoran seafood harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Uugh, harusnya semalam kumakan saja!

“Yaa…rugi dong semalam kita udah begadang masak. Padahal kan enak ikannya. Cuma sempat ku icip dikit.” Ujarku dengan kecewa. Nurul hanya berulang kali mengucapkan kata maaf karena ponsel saya yang tertinggal di kamarnya membuat kami tak sahur. Ia khawatir saya akan kelaparan karena tak makan sama sekali, sedangkan saya hanya khawatir ikan yang kami masak semalam akan basi tanpa sempat kami makan.

Ikan goooreeeeeeeng…..

Ngomong-ngomong tentang ikan, sejak Kak Wahab mulai bertugas di puskesmas yang sama dengan saya, saya jadi lebih sering makan ikan. Memang sih, ikan mudah didapat di sini, tapi berhubung Kak Wahab sangat hobi—jika tak mau dikatakan gila—memancing, akhirnya kami serumah jadi kecipratan untungnya juga. Hehehe… Meskipun kadang ia membuat kami—satu puskesmas dan bahkan kepala puskesmas—khawatir karena ia pergi memancing setelah maghrib dan tak kunjung pulang setelah matahari bersinar terik, hasil pancingan yang ia bawa selalu menggugah selera. Ikan dasar—kata orang sini. Atau ikan kelas satu—kata Kak Wahab. Ikan yang harus dipancing di tengah laut dan jika dijual harganya sangat mahal. Dan mungkin karena itulah ia jadi ketagihan untuk pergi memancing lagi dan lagi meskipun pernah terdampar di pulau antah berantah saat nekat memancing ketika cuaca buruk.

Setiap hari rasanya makan di restoran seafood jika Kak Wahab datang dengan membawa hasil pancingannya. Dan, karena telat bangun sahur, kami jadi gagal makan ikan.

Namun saya bersyukur, tahun ini saya dipertemukan dengan orang-orang baru dari berbagai suku dan tinggal dalam satu rumah membentuk satu keluarga. Ah, saya jadi rindu rumah lagi. Rindu sahur bersama keluarga. Meskipun kadang hanya sahur dengan mie instan dan telur—itu karena terlambat bangun—namun semuanya terasa lezat karena dimakan bersama keluarga.

Intinya, bersyukurlah kalian yang masih bisa menikmati indah dan berkahnya bulan ramadan dekat dengan keluarga tercinta. Bersyukur pula lah kalian para perantau yang merayakan bulan ramadan jauh dari rumah. Karena dengan begitu, kalian akan lebih paham apa arti pulang.

Selamat menjalankan ibadah puasa guys!

Leave a Reply