Demam Berdarah; Demam yang Tak Boleh Diabaikan

Dering telepon genggam saya memecah keheningan malam. Saat itu pukul 00.30 dini hari, saya baru saja memejamkan mata beberapa menit. Sepuluh menit? Lima menit? Semenit? Entahlah. Lelah, saya menggeser tanda hijau ke arah kanan tanpa melihat siapa yang menelepon. Ternyata itu dari salah seorang perawat di bangsal perawatan anak, mengabarkan bahwa ada pasien yang didiagnosis dengan demam berdarah dan sedang tak bagus kondisinya. Oh iya, sebagai tambahan, trombosit pasien hanya sembilan belas ribu. Sangat rendah jika dibandingkan dengan nilai normal yang seharusnya berkisar antara seratus lima puluh ribu hingga empat ratus ribu.

Seketika mata saya terbuka lebar. Tergesa saya meraih stetoskop oranye yang tergeletak begitu saja di atas meja putih milik perawat dan mulai berlari dari UGD menuju bangsal. Saya tak lagi memperhatikan apakah sepatu yang saya pakai masih berpasangan dengan pasangannya ataukah telah berganti dengan pasangan yang lain. Jas putih yang tadinya saya pakai tidur meringkuk menutupi tubuh sebagai pengganti selimut hanya saya genggam sembarangan tanpa sempat dipakai. Bisa dibilang, keadaan saya malam itu terlihat sangat berantakan. Continue reading