Dokter di Pulau; Pusling ke Cio Dalam

“Mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera, bersama teman bertualang.” ~OST. Ninja Hatori

Tiba-tiba saja saya teringat dengan film kartun jaman saya masih kanak-kanak dulu. Perjalanan ke Desa Cio Dalam sama persis dengan lirik lagu tersebut. Desa Cio Dalam adalah satu di antara tujuh desa lain yang berada di ruang lingkup kerja puskesmas saya. Diantara tujuh desa itu, terdapat tiga desa—salah satunya Desa Cio Dalam—yang sangat sulit dijangkau karena harus melewati gunung, lembah, sungai dan juga laut. Sama persis seperti lirik lagu ninja hatori itu. Hehehe…

Hari senin pagi, saya, teman-teman dari Nusantara Sehat dan beberapa pegawai puskesmas yang lain sudah bersiap-siap untuk melakukan puskesmas keliling di Desa Cio Dalam. Setelah satu tahun bertugas di Pulau Morotai, baru sekali ini saya benar-benar menginjakkan kaki di desa ini. Dua desa lainnya meskipun sulit dijangkau, namun saya cukup sering berkunjung ke sana. Entahlah, saya juga bingung dan lupa alasannya mengapa saya selalu melewatkan kesempatan melakukan pelayanan kesehatan di Cio Dalam. Continue reading

Kisah Romantis Itu Bukan Cuma Dilan dan Milea!

“The most romantic love story isn’t Romeo and Juliet who died together, but Grandpa and Grandma who grew old together.”

Tak seperti biasanya Puskesmas Wayabula pagi itu terlihat cukup sepi. Hanya ada satu orang pasien yang sedang mendaftar di loket. Seorang pegawai puskesmas yang bertugas memeriksa tekanan darah pasien dan beberapa pegawai lainnya yang duduk masing-masing di ruangannya berkutat dengan laporan akhir bulan yang harus segera diselesaikan. Oh iya, ada juga tiga orang pegawai lainnya yang sedang duduk mengobrol dengan suara berbisik di pintu masuk.

Langit terlihat mendung, meskipun rintik hujan belum juga jatuh. Mungkin saja karena mendung puskesmas jadi sepi. Orang-orang lebih memilih untuk berdiam di rumahnya atau mungkin saja semua warga Desa Wayabula semuanya sehat-sehat saja. Alhamdulillah. Continue reading

Difteri; Perlu Imunisasi Gak Sih?

“Duh, galau nih apa anak saya harus diimunisasi atau gak.”

“Gak usah aja, Bu. Cukup perkuat kekebalan tubuh dengan minum madu.”

Beberapa waktu ini Indonesia tengah dihebohkan dengan kasus difteri yang mewabah diberbagai daerah. Padahal, kasus difteri ini merupakan penyakit lama yang sudah sangat jarang ditemukan—jika tak mau dibilang tak ada. Sejak saya menjadi mahasiswa kedokteran hingga berstatus dokter pun saya hanya pernah satu kali melihat pasien difteri, itu pun masih suspect. Dan menurut peraturan menteri kesehatan No.1501/MENKES/PER/X/2010 bahwa jika ditemukan satu saja kasus difteri meskipun hanya suspect bisa langsung dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Nah, jika satu saja kasus yang ditemukan sudah bisa disebut sebagai KLB, bagaimana pula dengan sekarang ini yang telah memakan puluhan korban jiwa dan terjadi di setidaknya 20 provinsi di seluruh Indonesia? Continue reading

HIV/AIDS; Jauhi Penyakitnya, Bukan Orangnya!

 

“HIV doesn’t make people dangerous to know, so you can shake their hands and give them a hug.” ~Princess Diana

“Ih, kasihan… Ketularan dari siapa? Padahal kan dia belum menikah.” Saya mengehela napas berat. Inilah yang selalu tak saya suka. Begitu mendengar ada yang tertular penyakit mematikan yang bernama HIV/AIDS, pasti banyak yang berpikir bahwa orang yang tertular tersebut pastilah melakukan perilaku seks tidak sehat. Seperti ucapan seorang teman saya ini. Padahal, cara penularan HIV/AIDS tidak hanya melalui perantara hubungan badan tetapi bisa juga dari hal lainnya. Contohnya saja kami, para petugas kesehatan. Kami sangat berpotensi tertular penyakit tersebut dari pasien. Entah itu karena tertusuk jarum suntik ataupun yang lainnya. Continue reading

Gempa di Morotai; Semalam Mengungsi di Kebun

Suara gemuruh atap yang berderak dan tanah yang bergoyang dengan kuat membangunkan saya dari tidur. Seketika mata saya terbuka lebar, namun tak ada yang terlihat. Hanya sedikit cahaya dari luar kamar saya. Ah, semalam saya memang mematikan lampu kamar ketika hendak tidur. Sambil meraba-raba, saya mencari dimana letak kacamata dan juga jilbab saya. Terburu-buru saya mengenakan keduanya dan hendak menuju pintu ketika guncangan semakin kuat dan tiba-tiba listrik mati total. Untungnya tangan saya sempat meraih powerbank kecil yang biasa saya gunakan sebagai senter dan langsung menyalakannya dan tergesa-gesa membuka pintu kamar. Beberapa kali tangan saya tergelincir dari gagang pintu karena gemetar. Continue reading

Sudah Dua Tahun, Ndra…

Alm. dr. Dionisius Giri Samodra

Bagaimana sih rasanya ditinggalkan oleh dua orang sahabatmu sekaligus dalam waktu yang cukup singkat? Ah, rasanya seperti mimpi saja. Dan sampai sekarangpun aku masih berharap itu semua hanya mimpi buruk. Dan sekarang sudah dua tahun, Ndra. Dua tahun. Dua tahun kau meninggalkan kami semua. Rasanya hal itu baru saja terjadi kemarin. Aku masih ingat dengan jelas, perasaan sesak, gelisah dan sedih ketika tahu kabar buruk yang menimpamu, Ndra. Aku masih bisa membayangkan tawamu yang menggelegar di sepanjang koridor fakultas. Aku masih bisa membayangkan pipimu yang menyembul karena senyum di bibirmu. Continue reading