HIV/AIDS; Jauhi Penyakitnya, Bukan Orangnya!

 

“HIV doesn’t make people dangerous to know, so you can shake their hands and give them a hug.” ~Princess Diana

“Ih, kasihan… Ketularan dari siapa? Padahal kan dia belum menikah.” Saya mengehela napas berat. Inilah yang selalu tak saya suka. Begitu mendengar ada yang tertular penyakit mematikan yang bernama HIV/AIDS, pasti banyak yang berpikir bahwa orang yang tertular tersebut pastilah melakukan perilaku seks tidak sehat. Seperti ucapan seorang teman saya ini. Padahal, cara penularan HIV/AIDS tidak hanya melalui perantara hubungan badan tetapi bisa juga dari hal lainnya. Contohnya saja kami, para petugas kesehatan. Kami sangat berpotensi tertular penyakit tersebut dari pasien. Entah itu karena tertusuk jarum suntik ataupun yang lainnya. Continue reading

Gempa di Morotai; Semalam Mengungsi di Kebun

Suara gemuruh atap yang berderak dan tanah yang bergoyang dengan kuat membangunkan saya dari tidur. Seketika mata saya terbuka lebar, namun tak ada yang terlihat. Hanya sedikit cahaya dari luar kamar saya. Ah, semalam saya memang mematikan lampu kamar ketika hendak tidur. Sambil meraba-raba, saya mencari dimana letak kacamata dan juga jilbab saya. Terburu-buru saya mengenakan keduanya dan hendak menuju pintu ketika guncangan semakin kuat dan tiba-tiba listrik mati total. Untungnya tangan saya sempat meraih powerbank kecil yang biasa saya gunakan sebagai senter dan langsung menyalakannya dan tergesa-gesa membuka pintu kamar. Beberapa kali tangan saya tergelincir dari gagang pintu karena gemetar. Continue reading

Sudah Dua Tahun, Ndra…

Alm. dr. Dionisius Giri Samodra

Bagaimana sih rasanya ditinggalkan oleh dua orang sahabatmu sekaligus dalam waktu yang cukup singkat? Ah, rasanya seperti mimpi saja. Dan sampai sekarangpun aku masih berharap itu semua hanya mimpi buruk. Dan sekarang sudah dua tahun, Ndra. Dua tahun. Dua tahun kau meninggalkan kami semua. Rasanya hal itu baru saja terjadi kemarin. Aku masih ingat dengan jelas, perasaan sesak, gelisah dan sedih ketika tahu kabar buruk yang menimpamu, Ndra. Aku masih bisa membayangkan tawamu yang menggelegar di sepanjang koridor fakultas. Aku masih bisa membayangkan pipimu yang menyembul karena senyum di bibirmu. Continue reading

BELKAGA; Bulan Eliminasi Kaki Gajah

Sore itu saya tengah berada di Puskesmas. Jam kantor telah usai, namun karena ada pasien rawat inap yang baru saja masuk akhirnya saya kembali ke puskesmas. Hujan masih turun dengan deras dan entah mengapa sore itu Nurul—dokter gigi di puskesmas saya—menemani saya kembali ke puskesmas.

Hujan masih sangat deras ketika kami hendak pulang ke rumah. Setengah berlari, kami menembus guyuran air yang tak menunjukkan tanda-tanda akan reda. “Nurul, awas cacing filariasis!” Saya berteriak memperingatkan Nurul saat kakinya menyentuh kubangan air penuh lumpur. Begitu sampai di rumah saya jadi mengingat-ingat lagi apa yang saya katakan pada Nurul tadi. Ah, filariasis itu kan ditularkan lewat nyamuk. Kenapa juga tadi saya harus heboh mengatakan pada Nurul untuk tidak menginjak becek karena takut cacing? Continue reading

Visit Morotai; Air Terjun dan Pantai Batu Kopi

“Ky, sebenarnya kau itu kerja atau liburan sih? Kenapa foto-foto di instagrammu isinya foto jalan-jalan semua?”

Cukup sering saya diberikan pertanyaan demikian dan saya selalu menanggapi dengan tawa jika mendapatkan pertanyaan menuduh seperti itu. Yah, habisnya mau bagaimana lagi? Kerja di tempat terpencil namun memiliki banyak pantai dan laut yang indah tentu saja akan mubazir jika saya lewatkan begitu saja. Bahkan pantai yang berjarak hanya lima menit jalan kaki dari rumah dinas saya saja sangat instagram-able. Hahaha… Tiap ada kesempatan, biasanya saya selalu pergi mengunjungi satu persatu tempat wisata di Pulau Morotai—tempat kerja saya—mulai dari tempat yang terkenal hingga yang namanya belum pernah terdengar sama sekali bersama teman-teman PTT ataupun pegawai puskesmas saya. Continue reading

[Cerpen] Rahasia Winda

Perlahan mataku terbuka, kudapati tubuhku telah berada dalam kamar tidurku. “Dimana Winda?” gumamku.

“Ia sudah dikebumikan sore tadi,” jawab ibuku yang mungkin sudah sejak tadi menungguiku saat aku tak sadarkan diri.

Aku terhenyak. Pikiranku tiba-tiba kosong. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibirku. Ingin rasanya ku teriak dan menangis sambil meratap. Tapi otakku tak mampu menerima semua yang ingin kulakukan. Aku hanya duduk dan diam. Diam dalam derasnya hujan sore itu, diam dalam semua penyesalan yang terguyur tetesan hujan, diam dalam kenangan akan sore terakhir aku bersama Winda. Continue reading