Sudah Dua Tahun, Ndra…

Alm. dr. Dionisius Giri Samodra

Bagaimana sih rasanya ditinggalkan oleh dua orang sahabatmu sekaligus dalam waktu yang cukup singkat? Ah, rasanya seperti mimpi saja. Dan sampai sekarangpun aku masih berharap itu semua hanya mimpi buruk. Dan sekarang sudah dua tahun, Ndra. Dua tahun. Dua tahun kau meninggalkan kami semua. Rasanya hal itu baru saja terjadi kemarin. Aku masih ingat dengan jelas, perasaan sesak, gelisah dan sedih ketika tahu kabar buruk yang menimpamu, Ndra. Aku masih bisa membayangkan tawamu yang menggelegar di sepanjang koridor fakultas. Aku masih bisa membayangkan pipimu yang menyembul karena senyum di bibirmu. Continue reading

BELKAGA; Bulan Eliminasi Kaki Gajah

Sore itu saya tengah berada di Puskesmas. Jam kantor telah usai, namun karena ada pasien rawat inap yang baru saja masuk akhirnya saya kembali ke puskesmas. Hujan masih turun dengan deras dan entah mengapa sore itu Nurul—dokter gigi di puskesmas saya—menemani saya kembali ke puskesmas.

Hujan masih sangat deras ketika kami hendak pulang ke rumah. Setengah berlari, kami menembus guyuran air yang tak menunjukkan tanda-tanda akan reda. “Nurul, awas cacing filariasis!” Saya berteriak memperingatkan Nurul saat kakinya menyentuh kubangan air penuh lumpur. Begitu sampai di rumah saya jadi mengingat-ingat lagi apa yang saya katakan pada Nurul tadi. Ah, filariasis itu kan ditularkan lewat nyamuk. Kenapa juga tadi saya harus heboh mengatakan pada Nurul untuk tidak menginjak becek karena takut cacing? Continue reading

Visit Morotai; Air Terjun dan Pantai Batu Kopi

“Ky, sebenarnya kau itu kerja atau liburan sih? Kenapa foto-foto di instagrammu isinya foto jalan-jalan semua?”

Cukup sering saya diberikan pertanyaan demikian dan saya selalu menanggapi dengan tawa jika mendapatkan pertanyaan menuduh seperti itu. Yah, habisnya mau bagaimana lagi? Kerja di tempat terpencil namun memiliki banyak pantai dan laut yang indah tentu saja akan mubazir jika saya lewatkan begitu saja. Bahkan pantai yang berjarak hanya lima menit jalan kaki dari rumah dinas saya saja sangat instagram-able. Hahaha… Tiap ada kesempatan, biasanya saya selalu pergi mengunjungi satu persatu tempat wisata di Pulau Morotai—tempat kerja saya—mulai dari tempat yang terkenal hingga yang namanya belum pernah terdengar sama sekali bersama teman-teman PTT ataupun pegawai puskesmas saya. Continue reading

[Cerpen] Rahasia Winda

Perlahan mataku terbuka, kudapati tubuhku telah berada dalam kamar tidurku. “Dimana Winda?” gumamku.

“Ia sudah dikebumikan sore tadi,” jawab ibuku yang mungkin sudah sejak tadi menungguiku saat aku tak sadarkan diri.

Aku terhenyak. Pikiranku tiba-tiba kosong. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibirku. Ingin rasanya ku teriak dan menangis sambil meratap. Tapi otakku tak mampu menerima semua yang ingin kulakukan. Aku hanya duduk dan diam. Diam dalam derasnya hujan sore itu, diam dalam semua penyesalan yang terguyur tetesan hujan, diam dalam kenangan akan sore terakhir aku bersama Winda. Continue reading

Kusta; Penyakit Menular yang Sulit Menular {Yuk, Stop Deskriminasi Penderita Kusta!}

“Penyakit kusta bisa disembuhkan. Ia adalah penyakit menular yang tidak mudah ditularkan. Jadi jangan ada deskriminasi pada penderita kusta, karena mereka juga manusia.”

Kira-kira seperti itulah arti dari kalimat dalam bahasa jepang yang diulang-ulang oleh Yohei Sasakawa, seorang Goodwill Ambassador dari WHO (World Health Organization), yang berkeliling dunia untuk mengkampanyekan gerakan “Stop Deskriminasi Penderita Kusta” sekaligus ketua dari The Nippon Foundation—sebuah organisasi nirlaba yang banyak melakukan kegiatan sosial dan kemanusiaan—termasuk menyediakan stok obat kusta gratis di seluruh dunia. Dalam setahun, hampir dari sepertiganya ia habiskan untuk mengunjungi negara-negara yang endemik kusta. Saya sendiri sangat beruntung dapat bertemu dengan  beliau dan mendengarkan banyak cerita dari pengalaman-pengalamannya saat ia berkunjung ke Pulau Morotai beberapa pekan lalu. Continue reading

doctorSHARE goes to Morotai Island

“Dok, kemarin ada orang dari doctorshare datang ke sini. Itu loh, yang punya rumah sakit apung. Katanya itu temannya dokter. Terus katanya bulan Juni nanti mereka mau bikin pengobatan gratis di sini.”

Agak bingung, saya berusaha mencerna perkataan Kepala Puskesmas saya hari itu. Bukannya saya bingung dan tak tahu apa itu doctorshare. Tentu saja saya tahu doctorshare itu apa. Mereka adalah organisasi kemanusiaan nirlaba yang memfokuskan diri pada pelayanan kesehatan dan bantuan kemanusiaan. Saya selalu mendengar dan melihat berita mengenai mereka. Mengenai dr.Lie Dharmawan dan Rumah Sakit Apung-nya. Mengenai mereka yang selalu berkeliling ke daerah-daerah terpencil dan terpelosok di seluruh Indonesia Raya ini demi kesehatan. Saya selalu merasa kagum dan bercita-cita ingin setidaknya bisa seperti itu. Punya fasilitas kesehatan yang bebas diakses oleh orang-orang tak mampu secara gratis.

Continue reading